Kamis, 05 Juni 2014

Peran Lembaga Kemahasiswaan Dalam Menyukseskan Pemilu Presiden 2014


Pemilu merupakan pintu gerbang untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang mendapat pengakuan dan penerimaan kepada pemimpin untuk memerintah,  membuat, dan melaksanakan keputusan politik. Pemilu akan berkualitas baik apabila dijalankan dengan demokratis, jujur, adil, langsung, dan rahasia, sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas pemilu sangat bergantung dari bagaimana tahapan-tahapan yang dilakukan selama kegiatan. Tahapan tersebut meliputi: perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Pemilu diselenggarakan untuk menghindari terjadinya kekuasaan yang terpusat pada sekelompok orang tanpa mekanisme konstitusi yang jelas, sehingga ada kompetisi rasional, objektif, dan siap menang dan demikian juga siap kalah menjadi rakyat biasa.
Antusiasme masyarakat dalam penyelenggaran pemilu menjadi salah satu prasyarat keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Oleh karena itu, peran serta masyarakat, pemerintah, maupun perguruan tinggi menjadi sangat penting dalam mendukung kesuksesan penyelenggaraan pemilu.
Peran mahasiswa adalah berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan, pelaksanaan dan pengawasan sesuai dengan levelnya. Mahasiswa bisa aktif dalam proses pemilu dengan pengawasan yang terlembaga melalui pemantau pemilu.
Dilihat dari pengalaman pemilu sebelumnya, masih terdapat banyak money politics, independensi penyelenggara yang patut dipertanyakan, serta lemahnya Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) dalam menindak terjadinya kasus-kasus pelanggaran. Tentu saja hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, peran mahasiswa sebagai agent of change diperlukan.
Disinilah perlu adanya campur tangan dari lembaga kemahasiswaan di setiap kampus untuk dijadikan sebagai katalisator dalam menyukseskan pemilu yang berkualitas, tanpa ada kecurangan permainan termasuk intrik politik yang saat ini tengah berlangsung di parlemen. Setiap lembaga kemahasiswaan harus mempunyai partisipasi politik agar bisa berbagai informasi agar menjadi politik yang bersih. Lembaga kemahasiswaan juga berperan dalam meminimalisir atau bahkan mengurangi sikap golput dari teman-teman mahasiswanya. Upaya mengurangi angka golput diantaranya melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada pemilih (mahasiswa). Sosialisasi ditujukan kepada mahasiswa agar lebih mempunyai kesadaran politik untuk menggunakan haknya secara baik dan benar. Pendidikan pemilih ditekankan untuk memberikan pembelajaran lebih kepada mahasiswa agar dalam menggunakan hak pilihnya lebih rasional dan tidak sekedar mempunyai hubungan tradisional dengan para calon kontestan pemilihan umum baik sebagai calon legislatif maupun calon eksekutif.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar