Chika adalah seorang cewek yang identik dengan
serba-serbi berwarna pink-nya dan penggemar berat musik klasik. Dia
bersekolah di SMA Negeri 14 Bandung dan sedang menduduki bangku kelas dua. Di
suatu siang saat jam istirahat di sekolahnya tiba, seperti biasa dia dan Faren
teman sebangku sekaligus sahabatnya itu pergi ke kantin. Entah untuk makan atau
hanya sekedar ngobrol, buat mereka jam istirahat itu pantang banget buat ada di
kelas. Di kantin itu jugalah Chika biasa curi-curi pandang ke arah meja yang
selalu ramai dengan anak-anak cowok kelas tiga. Di sana juga cowok yang chika
taksir berada.
Di awal
kedekatannya dengan chika, faren belum menyadari kebiasaan sahabatnya yang
selalu melirik ke arah meja yang tepat ada di sudut kantin. Tapi akhir-akhir
ini kebiasaan chika itu segera menarik perhatian faren untuk mencari tahu siapa
yang tengah diperhatikannya, dan tebakan faren jatuh ke Rian anak kelas tiga
yang paling populer di antara anak-anak cowok kelas tiga lainnya. Faren tau sahabatnya
itu tidak akan menceritakan hal itu kepadanya dengan sendiri, oleh karena itu
faren ingin sekali menanyakannya langsung kepada chika.
“heh lagi liatin
kak Rian ya ?”, teguran itu sontak membuat Chika kaget dan tersadar dr
lamunannya. “Eh nggak kok, sembarangan aja” jawab chika.
Sambil menyipitkan
sebelah matanya faren kembali meledek sahabatnya itu “udahlah ngaku aja, iya
kan ? iya juga ga apa-apa kali aku juga setuju kamu sama dia”.
“Apaan sih kamu ren? Nggak kok beneran. Kenapa kamu setuju aku sama
dia emang kamu tau apa tentang dia ?”tanya chika
“Kamu kalo naksir bilang dong, dia kan tetangga aku. Gimana sih
gitu aja gak tau “.
Deg! ‘kak Rian tetangga Faren? Kok dia gak pernah cerita sih?’ tanya
Chika dalam hati.
“Kok diem ? nah kan ketauan kalo kamu suka sama diaa hayooo :D
chikaa chikaa baru kali ini aku tau kamu bisa naksir cowok hhaha.”
“Ih sok tau banget kamu huu” sungut chika. “masih gak mau ngaku hah
?” tanya faren. “bodo’ah!” jawab chika sambil berlalu dari kantin diikuti faren
karena jam istirahat telah usai.
Di kelas Faren
terus saja meledek Chika sehingga berhasil membuatnya menjadi uring-uringan.
Tetapi usahanya berhasil membuat Chika ngaku kalo dia memang suka sama Rian. Terbentuk
sunggingan puas dari wajah Faren. Mereka tertawa bersama di tengah-tengah jam
pelajaran yang akhirnya berhasil membuat Pak Agus naik pitam “Chika, Faren apa
yang sedang kalian tertawakan ? kalian tahu kan di jam pelajaran saya kalian
semua tidak boleh bermain-main!”. “maaf pak” jawab Chika dan Faren bersamaan. Teeettt
bel jam pulang pun berbunyi.
Keesokan harinya di
sekolah, Chika datang lebih awal karena kebagian tugas piket kelas. Sewaktu
lagi menyapu teras, Faren berteriak dari ujung koridor memanggil nama chika
sambil setengah berlari,
“Apaan sih kamu ren kebiasaan banget teriak-teriak kayak di hutan gitu?”
gerutu Chika sambil membuang sampah.
“Heh tau gak?” ujar faren.
“Tau apa? Dateng-dateng langsung nanya kayak itu” jawab chika
setengah cemberut.
Alhasil pipi chubby Chika
jadi sasaran empuk kegemasan Faren pagi itu.
“Masih pagi kok udah
mancungin bibir gitu sih, di depan gerbang aku ketemu Rian loh ka, setelah aku
lihat-lihat lagi ternyata dia itu cakep banget ya hmmm”.
Chika menjawab dengan santai tapi sedikit kesal di hatinya “Terus
kenapa ? Kamu naksir dia ? Deketin aja gih, rumahnya kan deketan juga sama kamu
jadi mudah dong buat PDKT”.
Pernyataan Chika itu sontak membuat sahabatnya tertawa
terbahak-bahak.
“Hei seru banget sih kamu ketawa pagi ini, habis dapet arisan ?”
tanya Chika heran.
Sambil terus tertawa faren menjawab ”Bukan habis dapet arisan ka,
tapi habis ketemu pangeran cakeeeepp banget hahaha, mendingan aku ketawa
daripada kamu cemberut gitu sampe bibir udah nambah 5 senti aja cuma gara-gara
cemburu *weekkk” Faren berlari masuk ke dalam kelas meninggalkan Chika yang
tengah kesal.
“ugh, aku gak cemburu Fareeeennn” teriak Chika dari depan pintu
kelas.
Di dalam kelas,
Chika masih melemparkan muka cemberut ke arah Faren sambil menduduki bangkunya,”
Masih kesel neng?” tanya faren meledek.
“Huh kamu nya sih pakek bilang aku cemburu segala” gerutu Chika.
“Memang bener kan ? dari pernyataan kamu tadi itu kelihatan banget
kalo kamunya cemburu :p ngaku aja deh sama sahabat sendiri juga bukan sama
orang lain”.
Sambil menoleh ke arah faren dan tersenyum, Chika menjawab, “aku gak
cemburu Faren, apalagi sama kamu. Masa sama sahabat sendiri cemburu, kan aku
percaya kamu”. Nah senyum gitu kan keliatan cantik nya “mau denger cerita
tentang dia nggak ?” tanya faren. Dengan terlihat antusias chika menyambut baik
tawaran sahabatnya “mau deh ren aku juga udah penasaran banget sama dia”.
Rian itu baru pindah setahun yang lalu kesini.
Yang aku denger sebelumnya dia tinggal di Yogyakarta, tapi karena ayahnya
pindah tugas ke Bandung jadi dia pindah juga deh. “emang ayahnya kerja apaan
ren ?” tanya chika menunda cerita faren.
“Kurang tau jg ya ka, tapi kata ibuku ayahnya
kerja sebagai kontraktor perusahaan besar gitu. Mau dilanjutin lagi gak
ceritanya ? “
“eehh iya iya lanjutin gih”.
“Nah selama dia tinggal disini dia itu anaknya
emang agak pendiam, tapi dia baik kok aku sering liat dia bantuin mamanya
beresin rumah, nganterin mamanya ke pasar dan yang lainnya deh. papa nya kan
suka lembur, jadi dia yang ditugasin buat jagain dan ngebantuin mamanya.”
“emang
dia nggak punya adik cewek atau kakak cewek gitu ?” . “
dia dulunya punya kakak cewek tapi
denger-denger kakaknya udah meninggal gara-gara kecelakaan mobil.”
Muka
Chika langsung berubah simpatik.
“Nah yang menarik dari dia, dari pertama dia
jadi tetanggaku, aku belum pernah liat dia bawa cewek kerumah. Di sekolah aja
kita gak pernah kan liat dia berdua-duaan sama cewek. Padahal dia kan cakep,
dan kelihatannya walaupun dia agak pendiam dia juga mudah bergaul sama
anak-anak disini, buktinya dia udah punya banyak temen sekarang. Gak mungkin
kan dia gak laku hahaha.
“Hush, gak mungkin lah ren” gerutu chika sinis.
“yee, jangan marah gitu dong cantik kan
bercanda aja” sahut faren.
Obrolan mereka pun
terhenti saat Ibu Mirna masuk ke kelas. Cerita Faren tadi masih
membayang-bayangi chika. Dia semakin tertarik untuk mengenal Rian lebih jauh.
Namun kendalanya dia dan Rian belum pernah bertegur sapa. Chika memang terkenal
ramah tapi tidak terlalu ramah kalau harus menegur anak-anak cowok lebih dulu.
Sampai dia menduduki kelas dua SMA ini dia belum pernah pacaran. Bahkan dia
tidak ada teman dekat laki-laki, semua anak-anak laki-laki di sekolahnya hanya
dianggapnya teman biasa. Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke SMA Negeri
14 hanya Rian-lah yang berhasil menarik perhatiannya. “Heh ka!”, teguran Faren
itu membuat Chika tersadar dari lamunannya. “eh, kenapa ren? Disuruh ngerjain
soal ya? Yang mana?”.
“Bukan kok, nah ngelamunin kak Rian yaaa ?”.
“hmm.. sok tau deh kamu! Yaudah belajar lagi yuk nanti kita dimarah
Ibu Mirna lagi” jawab chika.
“Hati-hati kesambet kalo ngelamunin si dia terus hihihi” ledek Faren.
Chika balas mencibir.
Dan seperti
biasanya, waktu istirahat digunakan dua sahabat karib itu untuk sekedar
bercerita di kantin dan seperti biasa juga pandangan Chika tertuju pada meja di
sudut kantin tempat biasanya Rian dan teman-temannya berkumpul. Hari itu, saat
ia sedang mencari Rian di tengah-tengah rombongan itu, tiba-tiba sebuah suara
menghentikan kegiatannya, dia menoleh dan ternyata yang sedang dicarinya ada di
depan matanya. Shock! Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
“Hei” suara itu akhirnya berhasil mengembalikannya ke dunia nyata.
“Oh hei”, jawab Chika sambil tersenyum.
“Kok sendirian? Faren mana ka?”, tanya Rian.
“hmm.. dia tadi lagi pesan bakso kak, mungkin sebentar lagi kesini”, jawab Chika.
”Kalo gitu, aku boleh duduk disini kan nemenin kamu nunggu Faren ?”, kata-kata itu sontak membuat Chika kikuk. “Eh iya kak boleh kok”, Chika
tersenyum canggung.
“Kamu suka banget sama novel ya ?", tanya Rian saat melihat novel
yang sedang dipegang oleh Chika.
“Iya kak “ jawab Chika.
“Memangnya apa sih yang membuat kamu jadi penggemar berat novel gitu
?”
"hmm sebenarnya dari kecil aku memang suka baca kak, aku mencintai dunia seni dan sastra, dan beginilah caraku mencintai sastra, aku memegang prinsip dari sebuah novel yang pernah aku baca, yang isinya seperti ini, "Aku baca buku karena aku suka, bukan karena aku mengharapkan suatu penilaian dari orang-orang di sekitar aku. Bukan karena aku ingin dianggap hebat atau pintar atau berpendidikan atau beradab cuma karena udah baca sebuah karya sastra." (Widhya Puspitadewi, 2009:60) jadi aku suka heran sama orang-orang yang dengan mudahnya mengejudge setiap orang yang suka baca adalah kutu buku dan identik dengan jenis", jelas Chika.
Mereka berdua pun mengobrol sampai jam istirahat usai sementara Faren
tak juga kunjung datang. Akhirnya mereka mengakhiri percakapan hari itu sambil
sama-sama tertawa.
“Ternyata kamu anaknya memang seru ya ka,kamu pintar, Faren gak
salah”, ujar Rian.
“Ah, gak juga kok kak, Faren orangnya emang suka melebih-lebihkan
hehe”, Chika tersipu malu. “Hm aku balik ke kelas dulu ya kak sekalian mau nyari Faren”, pamit Chika.
”Barengan aja ka, kelas kita kan searah”, tawaran Rian itu benar-benar
melengkapi kesenangan Chika hari itu. Mereka pun kembali ke kelas bersama-sama.
Setibanya dirumah,
Chika tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan ingin membaginya ke semua isi
rumahnya. Alhasil, semua orang yang ada dirumah itu tidak ada yang luput dari
sapaan Chika. “kamu kenapa sih dek kok girang banget? ”, tanya Tomi heran. Tomi
merupakan saudara tertua Chika.
“Ah, sok tahu kamu kak huu, Chika masuk kamar dulu ya”.
Di kamar, Chika tak
henti-hentinya menebar senyum. Sampai akhirnya bunyi hp memecah keheningan kamar bernuansa pink itu. Dilihatnya pesan dari kontak yang tidak dia kenal. Isi pesan
itu “Terima kasih ya sudah ditemani menghabiskan jam istirahat yang membosankan
tadi siang hehe”. Chika heran dan langsung menanyakan nomor itu.
Balasan dari nomor yang tak dikenal itu membuatnya kaget “Ini Rian
anak XII IPA 2 ingat kan ?”, Chika pun terenyak dari tempat tidurnya. “Eh ingat
dong kak, masa Chika langsung lupa hehe”. Percakapan lewat pesan itu terus berlanjut
di hari-hari berikutnya. Sejak saat itu, setiap mereka bertemu tidak ada lagi
kecanggungan di antara keduanya dan tentunya semua itu tidak lepas dari campur
tangan Faren. Faren-lah yang memberikan nomor hp chika ke Rian karena Faren tahu kalo Rian juga menyukai Chika.
Namun, semakin
mendekati ujian nasional semakin jarang pula Rian menghubungi Chika. Hal itu
membuat Chika merasa tidak yakin kalau Rian benar-benar tertarik dengannya
bahkan sampai menjelang kelulusannya pun Rian belum pernah mengungkapkan perasaannya,
alhasil Chika menjadi lebih sering melamun baik di sekolah maupun dirumah.
Faren menyadari kejanggalan sikap sahabatnya itu, setelah mendesak Chika untuk
bercerita, dia berhasil mengetahui masalah apa yang mengakibatkan sahabatnya
merubah sikapnya selama beberapa hari terakhir dan dia berinisiatif untuk
membantu chika. Sepulang dari sekolah, Faren langsung berniat untuk menemui
Rian, namun tidak membuahkan hasil.
Sampai akhirnya
ujian selesai, dan empat hari lagi adalah pengumuman kelulusan anak kelas tiga.
Tiba-tiba bunyi hp memecah keheningan kamar Chika malam itu, dia sangat malas
mengambil hp-nya. Namun bunyi hp itu
tidak juga berhenti, karena takut akan mengganggu penghuni rumah lainnya, Chika
pun mengambilnya, dan tak disangka ternyata Rian yang sedang mencoba menghubunginya.
“Hai Chika, kok lama banget sih ?”, tanya Rian di ujung telepon.
“Eh..maaf kak tadi Chika lagi blajar, ada apa ya kak?’.
“Gak ada apa-apa cuma mau tau kabar chika aja kok, boleh kan?”
“Oh.. boleh dong kak hehe”, obrolan itu berlanjut sampai larut
malam.
Empat hari pun
berlalu, tibalah hari dimana pengumuman hasil ujian anak kelas tiga. Chika pun
ikut tak tenang menunggu hasil ujian Rian dirumah, Chika terus berdo’a agar
Rian mendapat hasil yang terbaik. Dan do’a itu pun terkabul. Rian lulus dengan nilai
tertinggi di sekolahnya. Keesokan harinya, Chika kaget dengan kedatangan Rian
ke kelasnya, “eh aku lulus loh”, itulah kalimat pertama yang di ucapkan Rian.
“Selamat ya kak Chika juga ikut senang”.
“Makasih Chika, oh iya kakak mau melanjutkan sekolah ke Yogya dan
akan berangkat besok pagi. Kakak diterima di universitas negeri disana, kakak
kesini sekalian mau pamitan sama kamu”, kata-kata yang keluar dari mulut Rian
benar-benar mengacaukan hati Chika.
“Selamat lagi kakak, hati-hati
ya disana semoga bisa jadi orang sukses”.
” Amiin, makasih cantik Chika juga nanti mau kuliah di Yogya kan ?”
.
“iya kak , pasti deh tau dari Faren, Faren bawel ya kak hehe”.
“iya hehe jaga diri baik-baik ya ka, hmm..” sambil mengeluarkan
sebuah kotak cantik yang tersematkan pita berwarna pink yang sangat lucu, “Ini
untuk kamu”
Chika menerima kotak itu dengan wajah penuh
pertanyaan. Rian tertawa melihat mimik wajah Chika yang sangat menggemaskan.
“Itu kenang-kenangan dari aku, semoga kamu suka ya, oh iya dibukanya dirumah
aja”
Chika pun tersenyum penuh arti, tapi terbersit
berbagai pertanyaan dihatinya, ‘Apa arti kedekatan mereka selama ini ?
Mungkinkah hanya sebatas kakak dan adik saja ? Mungkin hanya cerita novel yang
bisa berakhir bahagia, mungkin kebahagiaan itu akan berakhir hari ini,
mungkin...’
“Hei kok bengong sih ? Wah udah sore nih, aku pulang duluan ya ka,
titip sekolahku ini, hah sepertinya aku mulai mengerti arti dimana setiap
pertemuan pasti ada perpisahan, bye” Rian pun meninggalkan Chika dengan sebuah
senyuman getir yang tidak bisa diartikan oleh Chika.
Setibanya dirumah, Chika langsung membuka kotak
pemberian Rian dan isinya adalah sebuah kotak musik berbentuk gitar dan sebuah
surat. Chika pun langsung menghidupkan kotak musik itu dan sontak dia kaget
mendengar musik yang mengalun itu merupakan musik kesukaannya 'I Can't Stop Loving you by Phil Collins'. Lalu dia pun membuka
surat yang ada di dalam kotak itu,
“Hei Chika, sudah denger musiknya ? Maaf ya kalo masih banyak nada
yang salah, maklum baru pertama kali permainan piano aku direkam untuk
dikasihin ke cewek hehe. Aku tau kamu suka banget sama lagu itu, soalnya aku
udah lama suka merhatiin kamu dan Faren, setiap kamu lagi kesal, Faren selalu
nyanyiin lagu itu dan kamu langsung tersenyum. Aku pasti bakal kangen senyum
kamu. Terima kasih sudah mengizinkan aku masuk ke dunia kamu akhir-akhir ini.
Berhubung aku juga penggemar berat novel, aku punya kata-kata buat kamu dari
salah satu novel yang pernah aku baca, anggap saja ini penutup dari surat ini,
terima kasih telah meluangkan waktu untuk sedikit tahu mengenai apa yang ingin
aku sampaikan sejak awal kita mulai berbicara sampai saat ini.
“Be calm, love me today-yesterday-what tearful longings to you. You
my life-my all farewell. Continue to love me, never misjudge the most faithfull
heart of your beloved. Ever thine, ever mine, ever ours (Rayi Indriyana on I’m With You)
Chika pun tanpa sadar meneteskan air mata haru
menerima semua hadiah yang diberikan oleh Rian, menurutnya isi dari hadiah itu
merupakan jawaban dari semua pertanyaan yang selalu terbersit dihatinya. Kini Chika
tidak lagi meragukan perasaan Rian terhadapnya, dia meyakini sebuah kutipan
yang pernah dia baca bahwa tidak setiap perasaan perlu diungkapkan dengan
perkataan langsung, aku hanya membutuhkan tindakan dan sedikit pertegasan, itu
saja sudah cukup.
Hari itu menjadi hari yang menyedihkan
sekaligus berkesan buat Chika. Hubungan mereka tetap terjalin dengan sangat baik
meskipun Rian melanjutkan sekolahnya di Yogya yang berbeda ribuan kilometer
dengan Chika, karena jarak bukan untuk dijadikan alasan selama hati dan detak
jantung mereka tetap berada di frekuensi yang sama.